Pulau langkadea saat mendengar nama itu terbayang sebuah
pulau berpasir putih dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang diselimuti lautan
biru nan luas.
Jumat malam Saya diajak trip ke pulau langkadea, salah satu
pulau yang berada di barat daya Kabupaten Pangkep. Karena penasaran dengan
pulau itu, saat diajak teman-teman saya tidak ragu-ragu dan langsung setuju,
jadilah di sabtu pagi kami berangkat menuju pulau itu.
Kami memulai perjalan dari pelabuhan Paotere yaitu
pelabuhan perahu-perahu rakyat dan juga pusat niaga nelayan. Di pelabuhan Paotere
inilah kami menyewa kapal yang akan mengantar kami menuju Pulau Langkade dengan biaya Rp. 40,000,-.
Matahari sudah berada tepat di atas kepala, kapal yang
panjangnya ± 20 meter dengan lebar ±1,5 meter itu mulai meninggalkan pelabuhan
perlahan-lahan. Beberapa penumpang duduk di dek kapal, ada juga yang berani menahan
panasnya terik matahari demi menikmati suguhan perjalanan berupa lautan biru
dan lukisan awan sambil ditiup angin laut, mugkin mereka menghayalkan sedang
berada di atas kapal tetanic bersama bebeb.
Belum sempat menikmati khayalan laut sudah tak setenang
saat kapal baru meninggalkan pelabuhan, di tengah perjalanan kapal mulai goyang
akibat ombak yang sesekali menghantam
kapal kecil yang memuat 30 orang itu. Pakaian yang awalnya tidak basah
sedikitpun langsung basah, bukan karena mimpi basah akibat khayalan melainkan percikan
ombak yang tak henti-hentinya menghantam kapal.
Sejam lebih dipermainkan ombak diatas kapal selama perjalan
akhirnya terlihat pulau kecil dari kejauhan, tapi semuanya terbayarkan oleh
keindahan pulau ini, terlihat pohon rindang yang berdiri tinggi diatas pasir
putih. Pulau ini tak berpenghuni, rasa-rasanya berada di private island sangat pas untuk saya yang suka nge-trip ke tempat-tempat yang tenang dan
jauh dari riuhnya orang-orang, jadi bias leyeh-leyeh dan nyantai tanpa diganggu
orang lain. Oh iya karena tak berpenghuni sebaiknya bawa persediaan air bersih
dan ransum saat akan ke pulau langkadea.
View pantai di Pulau Langkadea
Santai di atas hammock
Pulau itu tidak berpenghuni tapi terlihat jelas sebuah
mesjid tua dari kayu yang masih berdiri kokoh di tengah-tengah pulau, tidak
hanya itu ada banyak sisa-sisa runtuhan bangunan dan 3 kuburan tua. Dengan keadaan
seperti itu siapapun pasti akan bertanya-tanya kenapa warga pulau ini
meninggalkan pulau? Namun biarlah pertanyaan itu cukup kusimpan di pulau itu..
View tenda kami, dari kejauhan
terlihat sebuah mesjid
puing-puing bangunan dan makam
Soal keindahan pulau ini, selain pohon-pohon yang rindang
di sepanjang pulau itu terbentang birunya laut dan diselimuti angin laut tidak
hanya itu, tidak membutuhkan jarak yang jauh untuk menggapai lokasi untuk
snorkling. Kalau ditanya soal ikan-ikannya, tidak perlu khawatir, Ikan-ikan
sudah menunggu dan menari di terumbu karang. Begitu juga sunset dan sunrestnya,
duh tidak ada kata yang cocok selain keren! Seperti sepotong surge yang jatuh
ke bumi.
Sunset
Sunrise
Kalau bicara soal keindahan Pulau itu sudah tidak ada
abisnya deh, tapi di balik keindahan yang disajikan pulau langkadea, terlihat
beberapa karang memutih dan patah. Awalnya saya berfikir karang itu memang
berwarna putih dan yang patah itu karena gerusan air laut. "Coral bleaching" kata salah satu temanku. Apa sih Coral bleaching itu? Kata itu terus
tinggal di kepala saya sampai pulang kerumah. Setalah saya Tanya-tanya om gugel,
ternyata Coral bleaching itu
pemutihan karang karena naiknya suhu permukaan air akibat radiasi matahari yang
berlebihan, bahan kimia dalam air, atau pengadukan sedimen secara fisik.
Kalau pemutihan karang ini diakibatkan bahan kimia, besar
kemungkinan ini akibat nelayan-nelayan nakal yang menangkap ikan menggunakan
potas, sedih rasanya mendengar kalau karang-karang mati karena terkena racun,
ngerinya racun itu berdampak sampai sejauh mana air laut membawanya. Semoga
efek racun di beberapa karang tidak menyebar lebih luas lagi dan membunuh semua
terumbuh karang yang ada di pulau langkadea.








0 komentar:
Posting Komentar