300x250 AD TOP

follow ka pake blogta

Senin, 23 Maret 2015

Tagged under:

cerita dan harapan untuk pulau langkadea

Pulau langkadea saat mendengar nama itu terbayang sebuah pulau berpasir putih dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang diselimuti lautan biru nan luas.

Jumat malam Saya diajak trip ke pulau langkadea, salah satu pulau yang berada di barat daya Kabupaten Pangkep. Karena penasaran dengan pulau itu, saat diajak teman-teman saya tidak ragu-ragu dan langsung setuju, jadilah di sabtu pagi kami berangkat menuju pulau itu.

Kami memulai perjalan dari pelabuhan Paotere yaitu pelabuhan perahu-perahu rakyat dan juga pusat niaga nelayan. Di pelabuhan Paotere inilah kami menyewa kapal yang akan mengantar kami menuju Pulau Langkade dengan biaya Rp. 40,000,-.   

Matahari sudah berada tepat di atas kepala, kapal yang panjangnya ± 20 meter dengan lebar ±1,5 meter itu mulai meninggalkan pelabuhan perlahan-lahan. Beberapa penumpang duduk di dek kapal, ada juga yang berani menahan panasnya terik matahari demi menikmati suguhan perjalanan berupa lautan biru dan lukisan awan sambil ditiup angin laut, mugkin mereka menghayalkan sedang berada di atas kapal tetanic bersama bebeb.

Belum sempat menikmati khayalan laut sudah tak setenang saat kapal baru meninggalkan pelabuhan, di tengah perjalanan kapal mulai goyang akibat ombak yang  sesekali menghantam kapal kecil yang memuat 30 orang itu. Pakaian yang awalnya tidak basah sedikitpun langsung basah, bukan karena mimpi basah akibat khayalan melainkan percikan ombak yang tak henti-hentinya menghantam kapal.

Sejam lebih dipermainkan ombak diatas kapal selama perjalan akhirnya terlihat pulau kecil dari kejauhan, tapi semuanya terbayarkan oleh keindahan pulau ini, terlihat pohon rindang yang berdiri tinggi diatas pasir putih. Pulau ini tak berpenghuni, rasa-rasanya berada di private island sangat pas untuk saya yang suka nge-trip ke tempat-tempat yang tenang dan jauh dari riuhnya orang-orang, jadi bias leyeh-leyeh dan nyantai tanpa diganggu orang lain. Oh iya karena tak berpenghuni sebaiknya bawa persediaan air bersih dan ransum saat akan ke pulau langkadea.

View pantai di Pulau Langkadea

Santai di atas hammock

Pulau itu tidak berpenghuni tapi terlihat jelas sebuah mesjid tua dari kayu yang masih berdiri kokoh di tengah-tengah pulau, tidak hanya itu ada banyak sisa-sisa runtuhan bangunan dan 3 kuburan tua. Dengan keadaan seperti itu siapapun pasti akan bertanya-tanya kenapa warga pulau ini meninggalkan pulau? Namun biarlah pertanyaan itu cukup kusimpan di pulau itu..

View tenda kami, dari kejauhan terlihat sebuah mesjid

puing-puing bangunan dan makam

Soal keindahan pulau ini, selain pohon-pohon yang rindang di sepanjang pulau itu terbentang birunya laut dan diselimuti angin laut tidak hanya itu, tidak membutuhkan jarak yang jauh untuk menggapai lokasi untuk snorkling. Kalau ditanya soal ikan-ikannya, tidak perlu khawatir, Ikan-ikan sudah menunggu dan menari di terumbu karang. Begitu juga sunset dan sunrestnya, duh tidak ada kata yang cocok selain keren! Seperti sepotong surge yang jatuh ke bumi.



 Sunset

Sunrise

Kalau bicara soal keindahan Pulau itu sudah tidak ada abisnya deh, tapi di balik keindahan yang disajikan pulau langkadea, terlihat beberapa karang memutih dan patah. Awalnya saya berfikir karang itu memang berwarna putih dan yang patah itu karena gerusan air laut. "Coral bleaching" kata salah satu temanku. Apa sih Coral bleaching itu? Kata itu terus tinggal di kepala saya sampai pulang kerumah. Setalah saya Tanya-tanya om gugel, ternyata Coral bleaching itu pemutihan karang karena naiknya suhu permukaan air akibat radiasi matahari yang berlebihan, bahan kimia dalam air, atau pengadukan sedimen secara fisik.

Kalau pemutihan karang ini diakibatkan bahan kimia, besar kemungkinan ini akibat nelayan-nelayan nakal yang menangkap ikan menggunakan potas, sedih rasanya mendengar kalau karang-karang mati karena terkena racun, ngerinya racun itu berdampak sampai sejauh mana air laut membawanya. Semoga efek racun di beberapa karang tidak menyebar lebih luas lagi dan membunuh semua terumbuh karang yang ada di pulau langkadea.